Siapa yang tidak kenal kunyit? Di Jawa sebutannya kunir; Sunda, koneng; Madura, konyet. Rimpang berwarna kuning itu banyak digunakan ibu rumah tangga sebagai bumbu masak. Di Eropa kunyit dipakai sebagai bahan baku kosmetik dan pewarna makanan. Di sini, tanaman asal India itu mudah dijumpai. Ia tumbuh liar nyaris tanpa perawatan di pekarangan atau kebun.
Tak sekadar bumbu masak, Curcuma domestica juga berkhasiat untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Hal tersebut telah dibuktikan secara farmakologi. Uji coba dilakukan pada tikus yang dibuat menderita luka lambung. Hasilnya, pemberian secara oral ekstrak kunyit dengan dosis 500 mg/kg bobot tubuh menghambat sekresi getah lambung dan melindungi mukosa usus duabelas jari terhadap luka.
Antiradang
Ekstrak kunyit memberikan perlindungan maksimal terhadap zat perusak sel seperti HCl 0,6 M, NaOH 0,2 M, atau NaCl 25%. Khamin chan- sebutan popular di Thailand-itu menunjukkan aktivitas antitukak terhadap HCl kadar tinggi, aspirin, atau stress hipotermik.
Pemeriksaan secara periodic menggunakan endoskup pada penderita tukak lambung menunjukkan kesembuhan. Ia mengonsumsi 500 mg serbuk rimpang kunyit selama 3 bulan berturut-turut. Mual dan nyeri pada lambung sirna. Tidak ada efek samping yang merugikan selama pengobatan. Namun, konsumsi berlebihan-1.000 mg/kg bobot tubuh malah membuat tukak lambung semakin parah. Itu karena lambung tidak lagi memproduksi lendir.
Kunyit juga mujarab mengatasi peradangan. Itu dibuktikan pada tikus. Pemberian ekstrak akuatik kunyit, dosis 40mg/kg bobot tubuh setara dengan aktivitas antiradang seperti indometasin dosis 5mg/kg bobot tubuh. Namun, pemberian serbuk atau jus kunyit secara oral tidak menunjukkan khasiat antiradang. Minyak asiri kunyit juga berkhasiat sebagai antiradang.
Anggota famili Zingiberaceae itu dapat meningkatkan pembentukan getah empedu, meredakan kejang perut, dan menurunkan kadar kolesterol darah. Manfaat lain melindungi hati dari zat-zat toksik, mengurangi pembentukan gas dalam usus, dan antibakteri.
Komponen utama
Aroma harum dan rasa khas pada rimpang berasal dari kendungan zat asiri. Di dalamnya terdapat zat monoterpena dan seskuiterpena, meliputi zingiberena, kurkumena, a-turmerona, dan b-turmerona. Rimpang kunyit mengandung zat warna kurkuminoid yang merupakan campuran kurkumin, monodesmetoksikurkumin.
Kunyit tumbuh subur baik di dataran rendah, 90 m dpl, hingga dataran tinggi 2.000 m dpl. Ia memiliki batang semu dan basah. Daunnya mirip pelepah pisang tetapi ujungnya lebih membulat. Rimpangnya bercabang banyak dengan kulit luar berwarna jingga kecokelatan. Mengingat banyak sekali manfaat untuk kesehatan kini kunyit sepatutnya dilestarikan. (Djoko Hargono, pemerhati obat alam, mantan direktur Obat Tradisional Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan)
(dikutip dari: Trubus 411, hal 32)




